Skip to content

Obat paten vs obat generik; what I’d teach my patients

April 6, 2011
obat

Disclaimer: apa yang saya tulis di sini adalah pendapat saya pribadi mengenai industri farmasi dan kedokteran. Tulisan ini dibuat tanpa tendensi apa-apa, dan semata-mata bertujuan untuk mengedukasi para pembaca mengenai obat generik dan obat paten. Bila anda merasa tersinggung/tidak setuju dengan apa yang saya tuliskan, silahkan tulis keberatan anda di kolom komentar. Terima kasih.

Hallo semua! Apa kabar? :D

Ini adalah hari ke-3 sejak FDND saya publish ke dunia luar, dan alhamdulillah nembus 200 hits dalam 2 hari :D 200 hits sih mungkin belom seberapa ya buat blogger sekelas Assad-nya NFQ atau Adhitya mulya dengan suamigila tapi buat saya luar biasa banget ada orang yang mau baca racauan saya ini.. haha Jadi, makasih banyak buat yang udah baca, semoga ada manfaatnya.. hehe

Respon di luar dugaan beberapa hari ini bener-bener meningkatkan semangat buat nulis nih. Di tengah-tengah kebingungan menentukan tema tulisan, @kopiganja, salah satu akun yang saya follow membahas mengenai dunia kedokteran. Di antara bahasannya, salah satu yang ia singgung adalah mengenai obat paten vs obat generik, dan “kerjasama” antara industri farmasi dan oknum-oknum dokter. Suatu topik yang menarik dan saya rasa patut dibahas di FDND.

Stigma yang sekarang berkembang di masyarakat adalah berobat itu mahal. Tarif dokter mahal, dan harga obat bahkan lebih mahal lagi, apakah benar begitu? Bukankah ada obat generik yang dikampanyekan sana sini dan konon murah? Kalau begitu kenapa tidak semua dokter menggunakan obat generik? Apakah benar obat paten yang mahal lebih baik dari obat generik yang lebih murah?

Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas, yuk kita kupas dulu satu-satu apa itu obat generik dan apa itu obat paten :)

Apa sih obat paten dan apa bedanya dengan obat generik?

Sebelom bahas yang serius-serius, saya mau cerita dulu insiden lucu yang bikin saya sadar betapa rendahnya pemahaman orang awam mengenai apa itu obat paten. Percakapan di bawah ini terjadi antara saya dan ibu saya beberapa bulan yang lalu:

Saya: Iya ma, pasien-pasienku tuh suka ga percaya deh sama obat generik. Lebih suka obat paten.

Mama: Iya, dong. Mama juga maunya yang paten.

Saya: Lho, emang kenapa? Kan isinya sama. Karna ada patennya aja, merek.

Mama: Eh, mama kira selama ini karna paten! (paten = ampuh, bahasa sunda)

Saya: *cuma bisa diem sambil garuk-garuk kepala*

Gara-gara percakapan super aneh itulah saya jadi sadar, jangan-jangan selama ini banyak pasien saya yang minta obat paten karna dipikir obat paten itu berarti obatnya ampuh ya! hahaha :D

Oke, kembali serius. :)

Apakah teman-teman tahu bagaimana proses penelitian dan pembuatan sebuah obat hingga sampai ke tangan teman-teman sekalian? Penelitian untuk mendapatkan sebuah obat baru dimulai di lab, apakah suatu zat memiliki khasiat untuk mengobati suatu penyakit. Penelitian ini dilanjutkan dengan menggunakan hewan. Jika kemudian zat tersebut terbukti berkhasiat pada hewan, dimulailah suatu clinical trial atau percobaan terhadap manusia. Rentetan riset ini cukup lama loh, bisa memakan waktu hingga puluhan tahun hingga suatu obat dinyatakan berkhasiat dan layak dipasarkan. Si perusahaan obat yang sudah bercapek-capek menjalankan rentetan penelitian ini kemudian diberikan hak paten, yaitu hak tunggal untuk memproduksi obat tersebut yang berlaku selama 20 tahun. Obat-obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi pemegang hak paten inilah yang kemudian kita kenal sebagai obat paten.

Bayangkan, jika memiliki hak tunggal untuk memproduksi sesuatu, dalam kata lain memonopoli, tentu penentuan harga berada di pihak produsen, tidak lagi berada di tangan pasar sesuai kaidah-kaidah ekonomi. Inilah salah satu alasan mengapa harga obat paten mahal. Tapi, perlu diingat bahwa si perusahaan farmasi juga ga salah-salah amat karena ia kan harus menutup pengeluaran-pengeluaran yang telah ia keluarkan untuk riset yang super lama, biaya produksi, dan tentu biaya promosi. -Untuk komponen “biaya promosi” ini akan saya bahas lebih lanjut di bagian berikutnya tulisan ini.-

Setelah 20 tahun berlalu, maka si perusahaan farmasi tidak lagi punya kekuasaan untuk memonopoli produksi obat tersebut. Perusahaan obat lainnya pun akan berlomba-lomba mengeluarkan obat yang kandungan zat aktifnya sama dengan obat paten tersebut. Hasil produksi ini nantinya ada dua tipe. Pertama, obat generik, yaitu obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang telah di tetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Obat-obatan ini harus ikut aturan untuk memproduksinya, dan nantinya harga eceran tertingginya, atau biasa tertulis HET di kotak-kotak obat, ditetapkan oleh pemerintah. Perusahaan farmasi manapun yang produksi, namanya dan HETnya sama. Dengan kata lain, si perusahaan farmasi selain untuk proses produksi hampir ga keluar biaya apa-apa lagi buat obat generik ini.

Tapi apakah obat generik selalu murah? Yaa, murah atau engga sih sebenernya relatif ya. Sebagian besar obat generik relatif murah bagi sebagian besar masyarakat, tapi beberapa masih ada yang relatif mahal. Hal ini kemungkinan karena production costnya juga masih tinggi.

Kedua, ada yang disebut dengan obat generik bermerek. Obat ini memiliki kandungan zat aktif yang sama dengan obat generik, tapi dinamai berbeda sama perusahaan obat. Misalnya, Amoxan untuk obat dengan kandungan zat aktif amoxicillin, atau panadol untuk obat dengan kandungan zat aktif paracetamol. Obat generik bermerek ini, meskipun ga memiliki hak paten lagi, di kalangan masyarakat umum -dan juga dokter- kadang disamakan dengan obat paten. Bahkan pada kenyataannya, obat generik bermerek ini jauh lebih banyak beredar di masyarakat ketimbang obat paten yang beneran masih punya hak paten. Jadi bahasan saya pun akan secara tidak langsung menyamaratakan keduanya ya. :)

Obat generik bermerek atau yang disamaratakan di masyarakat dengan obat paten ini harganya lebih mahal, dan biasanya kemasannya lebih “keren”, begitupun dengan harganya yang bisa jauh di atas obat generik. Sebagai contoh, sebutir antibiotik cotrimoxazole forte generik harganya sekitar 200 rupiah per tablet, sementara salah satu obat generik bermerek/obat patennya yang pernah saya beli harganya 2000 rupiah per tablet, 10x lipatnya!

Jadi sebenernya obat generik sama aja dengan obat paten/generik bermerek?

jawabannya, IYA dan ENGGA juga. :)

IYA, karena ya kandungan zat aktifnya emang sama aja kok sama obat generik. Tapi ENGGA juga, karena ada bedanya.

Namanya orang jualan ya, pasti dong barang yang dijual harus memiliki kelebihan. Nah, selain merek dan kemasan, obat generik bermerek/obat paten ini juga biasanya memang punya kelebihan-kelebihan tertentu dibanding sodaranya si obat generik.

Dalam suatu obat, ada 2 macam zat. Pertama adalah zat aktif obat tersebut. Zat aktif ini merupakan zat yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan sesuai tujuan si obat tersebut. Misalnya, panadol zat aktifnya adalah paracetamol 500 mg yang berfungsi sebagai antinyeri, antipanas dan antiradang. Selain kandungan aktifnya, obat paten biasanya memiliki zat campuran lain. nah, zat-zat inilah yang diklaim akan memperbaiki kinerja obat tersebut dan membedakannya dengan obat generik. Misalnya, suatu obat mengklaim bahwa dibandingkan obat generik, obatnya akan diserap dengan lebih baik oleh tubuh, atau misalnya obatnya akan memberikan efek samping yang lebih ringan bagi penggunanya. Atau mungkin juga pembuatan sediaan obat yang lebih baik memungkinkan pelepasan zat aktif yang lebih pelan ke dalam tubuh sehingga daya tahan obat lebih lama dan efek samping lebih sedikit.

Selain itu, ada juga obat paten yang mengkombinasikan beberapa obat dalam satu sediaan. Untuk jenis yang satu ini contoh yang paling gampang adalah obat flu yang super banyak jenisnya di pasaran. Coba deh, next time kamu ke apotik atau ke toko obat, perhatikan banyaknya jenis obat flu dan lihat komposisinya. Biasanya satu obat flu berisi 3-4 zat aktif, yang kalau kamu perhatikan isinya itu-itu aja, paling kombinasi dan komposisinya yang diubah sedikit-sedikit. Perbedaan-perbedaan ini yang nanti akan pengaruh ke cocok atau tidaknya kamu menggunakan obat tersebut, dan itu dia yang jadi “jualannya” si obat. :)

Jenis ketiga dari obat paten/generik bermerek adalah obat yang sebetulnya sudah tidak ada hak patennya, tapi jenis sediaan tertentu belum ada generiknya. Untuk jenis ini salah satunya adalah paracetamol sediaan drop yang biasa diresepkan untuk bayi-bayi yang masih sangat kecil. Untuk jenis obat seperti ini, ga ada pilihan selain menggunakan obat paten/generik bermerek.

Apakah obat paten/generik bermerek selalu lebih baik dibanding obat generik?

Wah another tricky question! :D

Jawabannya, ENGGA.

Kedokteran adalah seni, bukan sekedar ilmu. Hal ini terutama karena di kedokteran ga bisa 1 + 1 = 2. Obat yang lebih mahal dan diklaim lebih baik, belum tentu akan cocok sama semua orang. Ada loh orang yang justru cocok sama obat generik, atau lebih cocok pakai obat A dibanding B dengan zat aktif sama, padahal B lebih mahal dari A.

Tidak bisa saya pungkiri, zat-zat tambahan yang terkandung dalam obat paten/generik bermerek bisa membantu. Contohnya akansaya ambil dari pengalaman saya sendiri. Pernah, untuk mengurangi rasa nyeri akibat efusi pleura yang saya alami saya diberi resep obat piroxicam paten seharga 67rb/5 butir. Obatnya sih keren gitu ya, yang ditaruh di lidah terus meleleh sendiri, enak pula rasanya. :D Awalnya tentu saya marah-marah karna saya tau untuk obat generik dengan kandungan zat aktif yang sama saya cukup mengeluarkan uang 750 rupiah. Yah hampir 100x lipatnya dari yang saya bayarkan. Tapi karna sudah dibeli saya minum juga, dan memang ampuh banget! Nyeri pun langsung hilang seketika dan dunia terasa indah kembali. Lebay deh.. hahaha :D Selang beberapa minggu, rasa nyerinya sempet mampir lagi. Dengan semangat cinta obat generik saya pun memutuskan untuk beli generiknya aja, seharga 1500 rupiah satu stripnya. Dan ga mempan, nyerinya tetap terasa. :(

Apakah ini berarti obat paten lebih baik? Tunggu dulu… Pengalaman sebaliknya dialami oleh ayah dari teman saya. Teman saya ini seorang dokter juga, suatu saat ia mengobati ayahnya yang lagi kambuh maagnya dengan obat ranitidin. Dulu dia pernah juga memberi obat ini ke ayahnya, versi generik, dan manjur. Kali ini ia memberi ayahnya obat paten, dan justru ga manjur! Si ayah pun kembali menggunakan obat generik.

Begitulah, kedokteran itu seni, dan salah satu seninya adalah menemukan obat yang cocok dengan pasien-pasien kita, karena semua orang berbeda. :)

Terus gimana dong caranya tau kita cocok sama obat yang mana? Yah, ga bakal tau kalo ga dicoba.. hehehe

Saran saya, kalau kamu berobat ke dokter, ingat dan catat nama obat dan kandungan obat yang diberikan kepada kamu, tandai mana yang kamu rasa cocok dan mana yang tidak. Kali berikutnya kamu sakit dan membutuhkan obat dengan kandungan yang sama (tanyakan pada dokter kamu) perlihatkan daftar yang kamu punya, dan jika memungkinkan minta obat yang kamu ketahui cocok kamu gunakan. Jangan lupa minta dokter untuk menuliskan catatan nama obat yang kamu rasa cocok dengan kamu di medical record sebagai data acuan di kunjungan berikutnya. Agak repot sih, tapi dalam jangka panjang akan sangat membantu kamu. :)

Jadi apa saja sih pertimbangan dokter saat memilih obat untuk pasien?

Pertimbangan pertama tentu saja, indikasi.

Suatu obat tentu tidak akan diberikan kepada pasien jika pasien yang bersangkutan tidak memerlukan obat tersebut. Dalam beberapa kasus, misalnya pemberian suplemen, indikasi ada di wilayah abu-abu. Kadang pemberian vitamin adalah suatu indikasi, misalnya pada pasien TB yang mendapat INH perlu diberikan vitamin B6 karena jika tidak akan terjadi kekurangan B6 di dalam tubuh. Tapi bagi pasien flu karena virus, misalnya, pemberian vitamin C megadose atau suplemen-suplemen peningkat daya tahan tubuh ada di wilayah abu-abu karena pasien akan sembuh juga walaupun tidak diberikan.

Untuk masalah indikasi, sepenuhnya ada di tangan dokter untuk menentukan. Ya, ini memang salah satu kelemahan bidang kesehatan dimana terjadi asymmetrical information antara dokter sebagai pemberi jasa dan pasien sebagai konsumen. Untuk mengakalinya kamu bisa menjadi pasien yang cerdas, dengan menggali banyak info melalui internet dan banyak bertanya pada dokter kamu. Tapi ingat, ga semua informasi yang dimiliki om google benar, jadi tetap kritis ya! :)

Pertimbangan kedua setelah diketahui obat-obat apa saja yang dibutuhkan pasien adalah, dari sekian banyak jenis obat, mana yang dipilih? generik atau paten/generik bermerek? kalau memilih yang bermerek, merek yang mana yang harus diberikan?

Pada jenis-jenis pasien tertentu, misalnya pasien-pasien dengan jaminan, baik jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat),  jamkesda (jaminan kesehatan daerah), askes, jamsostek (jaminan sosial tenaga kerja), biasanya dokter hanya dapat menggunakan obat generik atau obat paten tertentu yang telah ditunjuk oleh jaminan yang ditentukan. Sedangkan untuk pasien umum, yaitu pasien yang menggunakan metode pembayaran out of pocket atau membayar sendiri, dokter bebas memilih hendak menggunakan obat apa.

Saya pribadi karena masih terbebas dari bujuk rayu farmasi cenderung menggunakan obat generik, kecuali pasien saya sendiri yang meminta untuk diresepkan obat paten. Atau saya gunakan obat paten/generik bermerek jika obat yang saya butuhkan tidak tersedia obat generiknya.

Apa yang saya maksud dengan bujuk rayu? Nah di sini bahasan mengenai “biaya promosi” berperan.

Mungkin udah rahasia umum adanya “main mata” antara perusahaan farmasi dengan dokter-dokter. Perusahaan farmasi yang biasanya diwakili oleh detailman obat selalu berupaya agar obat paten/generik bermerek yang diproduksi oleh perusahaannya diresepkan oleh dokter. FYI, detailman-detailman ini bisa kamu temui di tempat praktik dokter-dokter loh, coba perhatiin orang-orang yang terlalu sehat buat jadi pasien dan ga keliatan lagi nemenin pasien, biasanya pake baju rapi, muncul di akhir-akhir jam praktek, pake tas gendong gede merek obat dan bawa map. Nah itu dia detailman! hehehe Adalah tugas mereka menjalin kerjasama dengan dokter agar mau menggunakan obat mereka. Kerjasama ini bisa cuma untuk beberapa jenis obat, atau sampe semua jenis obat yang diresepkan sang dokter, harus berasal dari perusahaannya. Ada jasa tentu ada imbalannya. Untuk membujuk rayu para dokter, perusahaan-perusahaan obat ini ga segan mengeluarkan uang. Dari mulai hal-hal kecil kaya traktiran makan, konsumsi rapat, sampai yang besar-besar seperti laptop, mobil, sampe seminar plus akomodasi kelas 1 di luar negri siap ditanggung. Semua tergantung besar-kecilnya keuntungan yang diberikan si dokter kepada perusahaan obat. Biaya-biaya ini yang tadi saya sebut dengan “biaya promosi”.

Pertanyaannya, salah ga sih dokter yang nerima pemberian perusahaan obat?

Kalau obat yang diberikan sesuai indikasi, dengan kata lain memang benar-benar dibutuhkan pasien, apakah salah? Apakah salah juga dokter yang menerima imbalan atas jasanya “melariskan”  obat milik si perusahaan obat?

Pusing ya? Saya juga pusing! :D

Jujur menurut saya semuanya masih abu-abu. Yang jelas-jelas salah adalah apabila seorang dokter memberikan obat yang yang tidak dibutuhkan oleh pasien. Atau dengan kata lain memberikan obat yang ga ada indikasinya cuma demi memenuhi target dari perusahaan obat. Ini jelas salah. Atau, misalnya memberikan obat paten yang tidak diperlukan dan sebenarnya tersedia versi generiknya pada pasien jamkesda/jamkesmas sehingga mereka harus membeli, padahal jelas-jelas untuk makan aja susah. Itu, jelas salah.

Tentu saya tidak bisa juga memungkiri bahwa ada oknum-oknum dokter yang masih melakukan hal-hal di atas itu. Tidak bisa saya pungkiri juga bahwa tidak semua dokter berusaha menjelaskan hal-hal ini ke semua pasien-pasiennya, atau memberi pilihan bagi pasiennya obat mana yang ingin mereka gunakan, generik atau obat paten.

Perlu saya jelaskan juga bahwa tidak semua dokter memilih obat berdasarkan imbalan perusahaan farmasi semata. Banyak juga kok teman sejawat saya yang memilih untuk memberikan obat paten tertentu karena memang mengetahui dari pengalaman klinis bahwa obat yang ia resepkan memiliki efek yang baik bagi sebagian besar pasien yang pernah ia tangani. Jadi ga salah juga dong ya kalau ia meresepkan obat paten? :)

Tentu saya salah juga jika mengatakan tidak ada dokter idealis yang menolak bekerjasama dengan perusahaan obat dan benar-benar hanya menggunakan obat paten/generik bermerek jika diperlukan. Dan saya sangat bangga dengan senior-senior saya ini karna  melawan bujuk rayu detailman dengan segala “penawaran menariknya”, di tengah lingkungan yang menanggap hal itu wajar-wajar saja, tentu sangat sulit sekali bukan? :)

Apa yang menurut saya ideal adalah, jika seorang dokter mampu menerangkan semua yang saya jabarkan di postingan kali ini kepada pasien-pasiennya. Dilanjutkan dengan memberi opsi-opsi obat, baik generik maupun paten beserta informasi dan harganya kepada pasien agar dapat memilih sendiri sesuai kesanggupan dan keinginannya. Walaupun jujur, bagi saya pun hal ini sulit sekali untuk dilakukan, mainly karna alasan waktu. Menulis ini saja sudah menghabiskan waktu 2,5 jam! Bayangkan betapa banyak waktu yang harus dikeluarkan dan bakal berapa panjang antrian di ruang periksa kalau semua harus saya jabarkan satu-satu. hehehe

Yah, mungkin untuk selanjutnya pasien-pasien saya bisa saya beri kopian blog ini ya untuk dibaca di rumah :)

Bagaimana, apakah pertanyaan di awal postingan ini sudah terjawab semua? Mudah-mudahan bermanfaat ya. hehe

Sungguh saya ingin jadi dokter ideal seperti yang saya ceritakan di atas. Dan saya yakin banyak juga teman sejawat saya yang ingin melakukan seperti itu walaupun sulit sekali dengan sistem yang ada saat ini. Sementara, yuk bantu saya dan teman-teman saya dengan menjadi pasien yang cerdas dan kritis. Tambah terus pengetahuan kamu dan banyak-banyaklah bertanya, agar kita bersama menjadi lebih baik. Agar sistem kesehatan kita dan hubungan dokter-pasien, menjadi lebih baik lagi.

I’m out now!

Salam sehat! :)

4 Comments leave one →
  1. November 25, 2011 4:29 pm

    Dokter,
    Tulisan anda sangat menarik dan terus-terang, hal yang sangat jarang saya dapati.
    Dengan demikian jelaslah keterangan ttg. obat generik dan paten/bermerek.

    Jadi tidak serta-merta dikatakan bahwa kedua jenis obat itu benear-benar sama…namun
    memang ada juga sedikit bedanya, dan tergantung pada pasien.
    Ada contoh, salah satu anggota keluarga kami menderita tekanan darah tinggi. Oleh dokter spesialis jantung diberi obat generik “A”, ternyata tidak membawa hasil yang diharapkan. Kemudian, obat diganti dgn. jenis yang sama tapi obat bermerek, eh…
    ternyata tekanan darahnya turun banyak hingga mendekati normal.
    Itu pengalaman kami, sesuai dengan apa yang dokter uraian.

    Terima kasih banyak atas tulisan yang mencerahkan !
    Semoga dokter terus berkarya demi kepentingan pasien, dan semoga Allah swt. selalu memberkati karya anda, dok.

    Salam,
    Ibu Santy Chr di Jakarta Timur

  2. December 2, 2011 1:49 pm

    Dear Ibu Santi,

    Terima kasih atas komentarnya! :D
    Sesungguhnya tidak ada yang membuat saya lebih bahagia dan semangat menulis blog ini selain mengetahui bahwa ada pembaca yang mendapat manfaat dari tulisan saya.

    Terima kasih banyak atas doa dari ibu, semoga Ibu sekeluarga juga selalu terjaga kesehatannya.

    Best regards! :)

  3. January 18, 2012 10:22 am

    Menarik sekali. Saya juga memiliki pengalaman yang sama. Pernah saya sakit batuk kemudian saya dikasih obat bermerek oleh dokter dengan bahan aktif ambroxol. Beberapa waktu kemudian batuk saya sembuh. Setahun kemudian batuknya kumat lagi kemudian saya beli sendiri amboxol generik di apotek. Eh sudah habis 1 strip masih belum sembuh tuh batuk. Harga yang generik memang jauh lebih murah.
    Memang pada dasarnya respon masing-masing individu terhadap obat berbeda-beda. Saya kebetulan pernah dikasih obat flu Tremenza oleh dokter THT. Habis minum obat itu rasanya ngantuk dan lemas. 2 hari rasanya seperti pengen tidur terus. Beberapa waktu berselang ganti istri yang kena flu kemudian Tremenza yang tersisa saya kasihkan. Efek sampingnya dia tidak bisa tidur (terbalik dengan saya yang ngantuk terus), jantung berdebar, dan sesak napas. Padahal gejala-gejala yang dialami istri saya itu sama sekali tidak saya alami. Anehnya kalau kena flu saya cuma dikasih Panadol flu enggak sembuh-sembuh meski udah habis 1 blister pun tapi kalau istri saya malah cepet sembuh tanpa efek samping apapun.
    Di sini saya tidak mengatakan yang bermerek selalu lebih bagus. Mungkin orang lain memiliki pengalaman yang berbeda. Yang pasti respon tubuh kita masing-masing berbeda untuk bahan obat yang sama

  4. Andro Nugroho permalink
    December 13, 2013 12:15 am

    ..seninya dimana bu dokter?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: